Menyimpan ASI

Proses pembentukan ASI dipengaruhi oleh hormon prolaktin sehingga kantung-kantung alveoli di dalam payudara mulai terisi cairan air susu. Sedangkan pengeluarannya diatur oleh hormon oksitosin yang menyebabkan kontraksi dari dinding saluran air susu sehingga ASI mulai bergerak keluar. Kedua hormon ini dihasilkan oleh bagian hipofisis dari otak kita.

Botol ASI steril

Seorang Ibu yang baru pertama kali bersalin biasanya lambat mengeluarkan ASI. Hal ini wajar karena selain terpancar sendiri, ASI juga kadangkala butuh dipancing dengan isapan dari mulut sang bayi untuk dikeluarkan. Sementara seorang ibu yang baru pertama melahirkan mengalami kendala menyusui akibat belum terbentuknya putting susu yang akan dihisap oleh bayinya sehingga mulut bayi mengalami kesulitan untuk mengisap.

Di lain kondisi tidak sedikit Ibu-ibu yang memiliki ASI berlimpah. Tanpa diisap oleh anaknya ASI akan membuat payudara menjadi bengkak bahkan Ibu bisa menjadi demam akibat keadaan yang disebut Mastitis ini. Untuk mensiasati hal tersebut maka tidak salah jika seorang ibu menampung ASInya lalu menyimpannya dalam wadah yang tertutup rapat untuk dapat dipakai sewaktu-waktu saat dibutuhkan.

Wanita karir  tentunya tidak ingin kehilangan momentum dalam bekerja tapi tetap menjaga kodrat keibuannya dalam membesarkan si buah hati. ASI yang terproduksi tetapi tidak dikeluarkan bisa menyakiti ibu tetapi dalam situasi bekerja tentunya mustahil ibu menyusui anaknya. Ibu yang tidak bekerja sekalipun akan menghadapi masalah ketika ASI berlimpah sementara bayinya sudah pulas kekenyangan. Perkembangan teknologi memberi solusi dengan adanya Breastpump atau Pompa ASI. Ibu tidak perlu lagi kesakitan dan terganggu pekerjaannya dan ASI nya juga tetap bisa diberikan buat anak dengan cara ditampung dan disimpan dalam wadah tertutup.

Kegiatan menampung ASI bukanlah hal yang sulit, hanya membutuhkan ketelatenan dan ketelitian kita. Higienitas adalah hal yang utama sebab kita tidak ingin anak kita mengkonsumsi ASI yang telah kehilangan kualitas, atau bahkan terkontaminasi mikroorganisme.

Sekarang ini wadah penampungan ASI ada dijual di supermarket berupa kantung plastic kedap yang dan bahan plastiknya aman dipakai sebagai wadh penampungan. Tetapi jika kita menginginkan wadah penampungan yang bisa dipakai berulang-ulang, murah dan aman maka sebaiknya menggunakan botol kaca dibandingkan botol plastic karena selain mudah dibersihkan, wadah kaca jauh dari potensi karsinogen dibandingkan botol plastic yang mudah terurai oleh perubahan suhu yang ekstrim pada saat sterilisasi. Wadah kaca yang sudah dicuci dapat disterilkan menggunakan sterilisator peralatan bayi yang banyak dijual. Jika tidak ada alat tersebut maka dapat disterilkan dengan jalan merebus dalam air mendidih.

Persiapan pemerahan sampai penyimpanan harus senantiasa menomorsatukan factor kebersihan, biasakan diri kita untuk mencuci tangan dengan sabun begitu pula dengan alat dan wadah yang digunakan selalu dalam keadaan steril. Ibu harus dalam keadaan rileks sedangkan ruangan dalam keadaan tenang dan nyaman. Keadaan stress akan sangat mempengaruhi produksi ASI.

ASI dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu tergantung suhu lingkungan penyimpanan, panduannya adalah sebagai berikut :

-          Dalam suhu kamar ASI bisa bertahan selama 6 jam

-          Dalam termos es berisi cold box bisa bertahan 24 jam

-          Dalam kulkas (suhu 4o C) dapat bertahan sampai 7 hari

-          Dalam Frezeer biasa dapat bertahan 3 bulan dan dalam freezer daging 6 bulan, sebelum disimpan di freezer maka simpan dulu dalam kulkas bawah selama 1 malam lalu dipindahkan ke freezer.

  • Perlu diketahui bahwa proses penyimpanan yang lama tentunya akan menurunkan kadar kandungan penting di dalam ASI itu sendiri.

-          Penyimpanan di dalam kulkas maupun freezer harus dipisahkan dengan bahan makanan lainnya dan wadah penyimpan harus dalam keadaan tertutup rapat.

-          Jumlah ASI yang disimpan dalam satu wadah sebaiknya 50cc-60cc agar pada saat dipakai tidak banyak yang tersisa akibat tidak habis oleh bayi.

-          Dalam satu botol dianjurkan untuk tidak mengisi penuh guna menghindari pecahnya wadah akibat pemuaian saat di hangatkan.

Penyajian ASI yang telah disimpan harus melewati beberapa tahapan sebagai berikut:

-          ASI yang disimpan dalam kulkas dapat langsung dihangatkan dengan cara merendam wadahnya di dalam air panas.

-          ASI beku dipindahkan dulu ke kulkas bawah (tidak beku) selama 1 malam lalu setelah mencair dapat dilakukan penghangatan seperti langkah di atas.

-          Jangan pernah membekukan kembali ASI yang telah dicairkan, dan jangan pernah menghangatkan ASI menggunakan mesin Microwave.

Colustrum

Colustrum adalah ASI yang keluar di hari-hari pertama. Colustrum adalah ASI yang “mewah” karena kandungan gizi dan antibodinya jauh lebih tinggi dibanding ASI biasa. Secara fisik dapat terlihat bahwa colustrum memiliki konsistensi yang lebih kental dan warna yang lebih pekat (kuning) dibanding ASI.

Meskipun beberapa produsen susu formula menjanjikan produk dengan kandungan colustrum tapi colustrum yang diambil dari susu sapi jelas tidak bisa disejajarkan kualitasnya dengan yang dihasilkan dari tubuh ibu meskipun secara kuantitas jumlah colustrum dari ibu mungkin lebih sedikit. (dr.Amran)

2 Komentar

Filed under Anak

2 responses to “Menyimpan ASI

  1. uli

    wah bagus nih infonya aku mau copy trz bikin leaflet buat di klinik ku ya dok,boleh kan?

    • dr. H. Amran Arsjad Raga

      @Uli : terima kasih sudah mampir, demi kebaikan silahkan ambil manfaatnya. copy paste dibenarkan dengan tetap mencantumkan sumber tulisan/ materi. salam hangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s