INFUS : tidak sekedar tetes demi tetes

Jamak kita melihat orang yang dirawat di rumah sakit mendapat suplai cairan melalui botol-botol yang dihubungkan dengan selang karet kecil. Infus disebut juga dengan Intravenous Fluid Drops (IVFD), diartikan sebagai jalur masuk cairan melalui pembuluh vena. Meski pada kenyataannya cairan infus memiliki jenis yang macam-macam, sehingga tidak serta merta dapat dikatakan bahwa infus adalah makanan pengganti bagi orang sakit.

*pic taken from 3Dscience

Kenyataan lain adalah tidak jarang ada pasien atau keluarganya meminta tenaga medis/ paramedis untuk memasangkan infus untuk pasien tetapi dirawat di rumah sendiri. Semata-mata karena kurangnya pengetahuan tentang apa dan bagaimana infus itu bekerja. 

Tujuan :

Pertama – Pemasangan jalur infus dilakukan untuk menjamin asupan cairan yang cukup untuk tubuh manusia. Terutama pada pasien dengan kecenderungan terjadinya dehidrasi  dan syok yang berujung pada kematian. Contohnya pada pasien diare, muntah-muntah, luka bakar yang luas, batuk, demam berdarah dan demam tinggi lainnya.

Kedua – Tujuan pemasangan infus yang lain adalah sebagai indikator fungsi organ ginjal dimana selain infus juga disertai pemasangan kateter untuk menghitung berapa cairan yang masuk dan dikeluarkan oleh tubuh melalui organ ginjal.

Ketiga – Tujuan yang paling umum adalah membuat jalur masuk obat, sehingga pada pasien-pasien tertentu pemberian obatnya tidak lagi secara oral (mulut) tetapi langsung disuntikkan melalui selang karet infus. Ini sering dilakukan pada pasien dengan kesadaran menurun, pasien dengan gangguan lambung/ muntah-muntah hebat serta pasien dengan kesulitan menelan.

Jenis-jenis :

Perlu dipahami bahwa tidak semua infus merupakan obat. Bahkan infus yang sering kita lihat pada umumnya bukanlah obat tetapi hanya cairan dengan kadar konsentrasi elektrolit tertentu, contoh Ringer Laktat (RL), Asetat Ringer (Asering), NaCl (cairan garam fisiologis), KaN3 dan lain-lain. Sedangkan sedikit jenis infus yang lain adalah merupakan obat seperti antimikroba, salah satunya Metronidazol dan jenis lainnya lagi dapat berisi Gula (Glukosa).

Pemilihan jenis infus ini didasarkan pada kondisi dan penyakit pasien itu sendiri. Harus tepat dengan berdasarkan indikasi dan kontraindikasi. Seseorang yang mengeluh lemas dan dehidrasi dan ternyata ada riwayat diabetes mellitus tentu menjadi kontraindikasi untuk diberikan infus Glukosa atau Dextrose tanpa melakukan uji kadar gula darah terlebih dahulu. Begitu pula dengan infus antimikroba menjadi kontaindikasi pemberiannya apabila diketahui adanya riwayat allergi zat tersebut atau hasil uji tes menunjukkan positif allergi.

Perhatian :

Pemasangan infus perlu pengawasan ketat, tidak sekedar memasang lalu menunggu tetes demi tetes sampai habis lalu ganti botol dan seterusnya. Perubahan-perubahan klinis dapat terjadi pada pasien, yang paling ringan dan sering muncul adalah pembengkakan pada betis dan punggung kaki, jantung terasa penuh dan yang paling berat adalah sesak napas. Hal ini disebabkan oleh menumpuknya cairan didalam jaringan tubuh termasuk paru-paru sehingga jantung harus memompa lebih berat.

Tempat tusukan jarum infus di kulit berpotensi infeksi apabila tidak ditatalaksana aseptik dengan baik. Pembengkakan disertai lebam biru jaringan sekitar akibat pecahnya pembuluh darah sangat mungkin terjadi (phlebitis) begitu pula pasca dilepasnya jalur infus bisa menimbulkan nyeri selama beberapa hari atau bahkan disertai infeksi.

Riwayat pasien dengan hipertensi, gangguan jantung dan gagal ginjal perlu kontrol ketat karena overvolume dari cairan akan memperberat penyakit tersebut. Di sisi lain pasien tanpa riwayat gangguan tadi bisa mengalami gangguan tersebut manakala menerima asupan cairan tanpa penatalaksanaan yang benar sehingga menjadi overvolume.

Emboli udara (sumbatan udara) dapat juga terjadi apabila terdapat gelembung udara yang turut serta masuk ke dalam sistem sirkulasi. Masuknya udara ini bisa terjadi sejak pemasangan awal infus set atau akibat keterlambatan mengganti kolf/ botol infus yang telah kosong. (dr.Amran)

9 Komentar

Filed under Klinis

9 responses to “INFUS : tidak sekedar tetes demi tetes

  1. eby

    sewaktu saya menderita DBD, ada cairan yg disuntikkan ke selang infus. Dan setelah itu rasanya sakit sekali. Seperti bisa merasakan reaksi cairan itu di tubuh sy mengalir bersama darah (maaf kalau alay :D). Itu cairan apa ya namanya? penasaran, hanya penderita DBD atau banyak penyakit lainnya jg bgitu?
    Makasih…

    • Salah satu fungsi jalur infus adalah sebagai media pemberian obat suntik. Ada beberapa obat suntik yang memiliki efek penyerta saat diberikan, ada yg menyebabkan mual bahkan muntah, ada yang menimbulkan nyeri saat pemberian. Obat golongan steroid dan cairan vit.C sering dikeluhkan dapat menimbulkan nyeri saat disuntikkan ke dalam pembuluh darah.

  2. aku

    kenapa setelah infus dicabut leher sama pundak terasa sakit banget ya??

    • Nyeri leher dan pundak tidak selalu ditemukan pada pasien. Keluhan ini bisa muncul karena posisi tidur badan yang kaku menghindari akses infus agar tidak tertindih sehingga dirasakan nyeri/ pegal setelah infus dilepas.

  3. Wow! This could be one particular of the most useful blogs We have ever arrive across on this subject. Basically Excellent. I’m also a specialist in this topic therefore I can understand your hard work.

  4. Klo boleh tau setelah cairan habis selangnya di buang tau di manfaatkan lagi.

  5. terimakasih atas informasinya…

  6. Mardin zaluchu

    Thank’s buat penjelasannya…!!!
    Mga para tenaga medis lbh berhati2 dalam melakukan tindakan pemasangan infus…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s